Liburan panjang kemarin aku pulang ke Majalengka. Seperti biasa aku mampir dulu ke Cirebon, ke rumah Nenek. Sudah beberapa waktu belakangan ini, setiap pulang, aku selalu merasa ingin ”pulang”. Maksudku begini.
Dalam memaknai kedirian, aku hampir tidak bisa melepaskan sejarah masa laluku di kampung dan suasana kampung yang meninggalkan bekas sangat dalam. Rasanya aku tidak perlu terlalu mendramatisasi mengatakan betapa ”menyesakkannya” menjadi bagian dari metropolitan ini (aku tinggal di Depok, sih, tapi tetap saja beberapa aktivitas memaksaku untuk banyak jalan-jalan ke Jakarta). Cerita tentang betapa keruwetan Jakarta sering membuatku ”migrain” tidak lebih menarik ketimbang cerita tentang apa yang aku rasa ketika pulang, kali ini.
Tiga kota (kecil) di Jawa Barat, Majalengka, Kuningan, dan Cirebon, punya cerita sendiri buat aku. Masa kecil sampai remaja, aku habiskan di tiga kota itu. Masing-masing punya kesan, tentu saja. Tapi secara umum, terlepas dari segala persoalan hidup dan kemiskinan yang membelit kami dulu, tiga kota itu selalu merepresentasikan kebahagiaan, kedamaian. Dan perasaan itu pula yang muncul Kamis-Minggu lalu. Aku sering berangan-angan suatu ketika punya uang cukup banyak lalu membeli sawah di Majalengka. Di tengah sawah itu ada saungnya. Aku ingin kembali memiliki kesempatan untuk sesekali merasakan makan nasi merah dengan lauk tahu, tempe, ikan asin, sambal, dan lalapan yang dipetik langsung dari sawah, seperti yang pernah aku rasakan dulu waktu uwak panen padi.
Mungkin, antara lain, hal itu yang membuatku ingin selalu ”pulang” kalau kebetulan sedang pulang? Di Jakarta, harus aku akui, aku mendapatkan banyak hal dan kesempatan yang aku inginkan. Tidak. Aku tidak tengah berbicara tentang materi, jika menyinggung itu. Tapi, aku mensyukuri pengalaman yang aku dapatkan di sini. Aku mensyukuri bahwa di antara hari-hari yang aku lewati lebih banyak aku berkata, ”Wah hari ini indah sekali, ya. Aku bahagia. Aku merasa cukup.” Tapi tetap saja rasanya kok beda, ya kalau kebetulan aku pulang kampung? Tapi kuingat-ingat, perasaan berbeda ini baru ”ngeh” terasa sejak Lebaran 2007 lalu. Yang aku ingat, pemicunya waktu itu adalah obrolanku dengan Bapak dan salah satu sepupuku yang menjadi kepala sekolah di salah satu Madrasah Aliyah di sana. Kami, saat itu, ngobrol cukup panjang lebar tentang tokoh PUI Majalengka, KH. Abdul Halim, yang menjadi salah satu anggota BPUPKI. Kami juga bicara panjang lebar tentang rencana pembangunan bandara internasional di Kertajati, tentang dampak sosial-budaya yang mungkin muncul nantinya.
Ummm….apa lagi, ya? Oh, ya…sejak beberapa bulan terakhir, setiap aku mampir ke Cirebon, aku hampir selalu disuguhi cerita tentang aktivitas dua adikku di rumah penanya Farid Gaban (coba buka ini deh www.beritacerbon.com). Di antara aktivitas kerja dan kuliahnya, mereka berdua memang sedang giat-giatnya (belajar) jadi wartawan di situ. Jujur saja, aku senang mereka bisa punya aktivitas seperti itu. Senang sekaligus ngiri. Mereka berhasil tidak menjadi korban konstruksi realitas (yang lebih sering digembar-gemborkan media) tentang menjadi sukses di kota besar. (Ah, tapi tidak sesederhana itu juga, deng. Bukan tidak pernah kedua adikku ini tergiur ”lenggak-lenggok Jakarta”. Satu-dua kali mereka pernah juga mencoba menjajagi kemungkinan untuk ada di sini, tapi [terima kasih Allah] gagal. Dan rasanya, aku juga kok seperti terlalu mencari justivikasi atas keputusan menghirup udara Jakarta dengan selalu menyalahkan media atas keberadaanku di sini, saat ini. Baiknya mungkin aku mengatakan ada dua kepentingan yang bertemu di situ. Sejak kecil, hasrat ”menaklukan” Jakarta menjadi kepentinganku. Meski belum tepat benar untuk dianggap seperti itu, tapi toh fakta bahwa sekarang aku merasa bisa tidur nyenyak, tidak kelaparan, bisa beribadah dengan tenang, punya lingkungan pergaulan yang baik, sudah lebih dari cukup menjadi alasan untukku mensyukuri kemurahan-Nya. Buatku bisa bertahan hidup di Jakarta berarti sudah bisa menaklukan Jakarta. Nah, kepentinganku itu bernegosiasi dengan ”realitas” tentang Jakarta yang disuguhkan media padaku sejak kecil. Begitu saja mungkin ya, cara pandang yang lebih adil. )
Beberapa waktu terakhir, kalau pulang, aku selalu mencoba menularkan virus pada mereka untuk tetap tinggal di sana saja, tidak perlu bahkan, sekadar, mengadu untung di Bandung. Tidak ada salahnya membangun kampung halaman. Kota besar sudah terlalu sesak juga. Dan lagi, aku melihat mereka berdua begitu menikmati keberadaan mereka di Rumah Pena.
Hal-hal di atas sepertinya membuat magnit kampung halaman menjadi cukup kuat untuk mengalahkan tarikan Jakarta, bagiku, saat ini. Maka tidak heran, pada kepulanganku kali ini, aku mulai memutar otak, apa ya yang bisa menjadi alasan untuk aku bisa sering pulang? Tentu tidak sekadar karena kewajiban menengok orangtua. Tapi sepertinya harus ada alasan yang lebih berdaya guna. Jadi nanti bisa sering pulang, berkesempatan cium tangan Ibu dan Bapak, sekaligus punya arti juga buat orang lain di kampungku, dan satu lagi, ini tidak kalah penting, bisa lebih sering membaui kembali aroma kebahagiaan masa kecil dan remajaku dulu. Rasa yang semakin mewah diperoleh di metropolitan ini.
Uummm…keinginan ”pulang” ini serius atau sekadar perasaan nostalgik belaka, ya…
Depok, 6 Mei 2008