Bilik Pencarian

July 2, 2008

Kangen Indonesia

Filed under: Senandika — huriyyati @ 8:04 am

Indonesia Pusaka

Ismail Marzuki

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

(Paterson Road Hong Kong, 2 Juli 2008 )

ps. Baru lima hari di Hong Kong yang begitu tertib dan membuat ’secure’– masih sekitar dua puluh hari lagi– aku udah kangen berat sama tanah air. Tadi pagi, sambil menatap indahnya laut berlatar gedung-gedung pencakar langit di belakang tempatku menginap, aku menyanyikan lagu itu, mengingat negeriku nun di sana yang kacau, korup, banyak masalah. Norak? Biar aja.

June 2, 2008

Mereka atau Aku (Sebenarnya) yang Narsis (?)

Filed under: Senandika — huriyyati @ 1:22 pm

Sejak kecil, aku selalu gagap dengan konsep stratifikasi sosial. Mungkin karena kami adalah keluarga sederhana (untuk tidak mengatakan miskin) yang selalu ingin diperlakukan sejajar dan sama adil dengan yang lain, dengan mereka yang dianggap masyarakat sebagai kelas elit, baik karena pendidikan, kekayaan, atau pangkat di kesatuan. Ya, bapakku dulunya anggota TNI-AD. Terakhir, dia berpangkat letnan satu. Memang sih perwira, tapi, menurutku, Bapak sangat jujur. Dengan anak lima, kami rasa gajinya pas-pasan. Dulu kami tinggal di kompleks TNI AD. Tetangga kiri kanan kami itu rata-rata perwira (cenderung) atas, dari mulai kapten sampai kolonel. Masing-masing kami diberi jatah rumah untuk ditinggali. Tentu saja, rumah kami lebih kecil dan lebih sederhana ketimbang mereka. Satu saja yang menonjol dari keluarga kami, hampir semua anak-anak ibu dan bapak cukup berprestasi di sekolah. Jangan membayangkan berprestasi itu berarti mengerti komputer, bisa cas-cis-cus bahasa Inggris, menang lomba sana-sini. Ah, menonjolnya anak-anak sekolah kampung, yang mungkin kalau ditempatkan di kota besar, bahkan tidak akan dapat ranking.

Di depan rumah-rumah perwira menengah ke atas, ada rumah-rumah petak yang lebih kecil berjajar panjang, dan hanya disekat oleh dinding, sehingga bisa diketahui batas antara satu rumah dengan yang lain. Rumah-rumah itu dihuni oleh para perwira bawah. Prajurit dan kopral. Aku ingat, ibuku, dan seorang ibu lain dari kasta yang sama (sama-sama letnan satu) lebih suka berada di antara mereka, dan kami anak-anaknya juga lebih sering main di rumah mereka. Mereka hampir tidak pernah membatasi akses dan membangun jarak. Aku justru mengerti arti kebersamaan dan persamaan itu ketika berada bersama mereka.

Aku tidak ingin berpanjang-panjang tentang apa yang terjadi ketika aku merantau ke Bandung, kemudian ke Jakarta, dan balik lagi ke Bandung, dan lalu ke Jakarta lagi. Aku hanya sekadar ingin mengatakan bahwa, secara teoretis, melalui serangkaian kuliah di Sosiologi, aku mengerti tentang konsep stratifikasi sosial. Tapi sampai saat ini, aku begitu kesulitan menerima konsep itu.

Aku tidak kunjung mau (atau bisa?) menerima kenapa ada orang yang begitu bangga (yang mengarah pada/cenderung arogan) dengan sejarah masa lalunya. Aku masih suka terheran-heran dengan orang yang begitu heroik bercerita tentang almamaternya, seolah-olah semua harga dirinya terletak pada pengetahuan semua orang tentang lulusan dari mana dia. Aku masih suka kebingungan menghadapi orang dengan semenumpuk topeng untuk sekadar memberitahu betapa powerful-nya dia. Aku masih sering kali tergagap-gagap, speechless, dan gugup jika bertemu orang semacam itu, meskipun kadang, kalau sudah merasa begitu terpojok, mekanisme pertahanan diri aku bereaksi spontan melalui sikap yang apologetik dan bahkan kadang terkesan menyerang balik. Sikap yang kadang, aku renungi justru kontraproduktif dan tidak solutif.

Aku tengah bergelut dengan persoalan ini, saat ini. Saat ini, aku tengah berada dalam situasi yang cukup membuatku keder. Di satu sisi, aku terlibat bekerjasama dengan orang-orang pandai yang, mengutip Bourdieu, karena habitusnya membuat mereka tergolong ke dalam kelas menengah-atas. Di sisi lain, aku juga berada di antara mereka yang, juga, karena habitus mereka: pendidikan, warisan kasta dari leluhurnya, berada di posisi yang membuatku merasa lebih istimewa, karena bisa membuat mereka melakukan apa yang aku mau mereka lakukan.

Dua-duanya membuatku merasa berada dalam posisi yang tidak enak. Tidak gampang juga bersama dengan orang-orang yang masuk ke dalam jajaran orang-orang elit sekaligus berada di tengah-tengah mereka dengan stigma pekerja kelas bawah. Kegagapan aku menghadapi orang-orang elit yang secara umum punya kecenderungan arogan, sering kali membuat aku tampak (semakin) bodoh dan gampang kena label: tidak tegas, tidak punya inisiatif, dan paling parah apologetik. Sementara berhadapan dengan kelompok satunya lagi sering membuatku merasa punya power, dan ini jelas sangat menakutkan aku.

Sebentar? Kok bisa aku berpikir aku takut, ya? Jangan-jangan sebenarnya aku juga tidak jauh beda dengan kelompok dengan stigma kelas-menengah ke atas yang , arogansinya, membuat gerah orang-orang di sekeliling mereka yang, karena takdir, tidak punya pilihan lain, atau bahkan salah memilih, harus menjadi orang dengan label kelas bawah? Jangan-jangan aku sedang pake topeng seorang yang mencoba merendahkan hati menaikkan mutu, dan tulisan ini tak lebih dari sebuah paparan untuk sekadar mengatakan , “Eh, aku seorang powerful,yang rendah hati lho!” ?

Ya, mungkin saja begitu! Nah, lho!

(Tulisan lama yang terasa masih relevan setelah dirombak sana-sini)

Depok, 1 Juni 2008

June 1, 2008

Hujan Bulan Juni : Sapardi Djoko Damono

Filed under: Puisi — huriyyati @ 1:03 am

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

 

1989

 

 

 

 

 

May 6, 2008

Ummm….:-?

Filed under: Senandika — huriyyati @ 9:09 am

Liburan panjang kemarin aku pulang ke Majalengka. Seperti biasa aku mampir dulu ke Cirebon, ke rumah Nenek. Sudah beberapa waktu belakangan ini, setiap pulang, aku selalu merasa ingin ”pulang”. Maksudku begini.

Dalam memaknai kedirian, aku hampir tidak bisa melepaskan sejarah masa laluku di kampung dan suasana kampung yang meninggalkan bekas sangat dalam. Rasanya aku tidak perlu terlalu mendramatisasi mengatakan betapa ”menyesakkannya” menjadi bagian dari metropolitan ini (aku tinggal di Depok, sih, tapi tetap saja beberapa aktivitas memaksaku untuk banyak jalan-jalan ke Jakarta). Cerita tentang betapa keruwetan Jakarta sering membuatku ”migrain” tidak lebih menarik ketimbang cerita tentang apa yang aku rasa ketika pulang, kali ini.

Tiga kota (kecil) di Jawa Barat, Majalengka, Kuningan, dan Cirebon, punya cerita sendiri buat aku. Masa kecil sampai remaja, aku habiskan di tiga kota itu. Masing-masing punya kesan, tentu saja. Tapi secara umum, terlepas dari segala persoalan hidup dan kemiskinan yang membelit kami dulu, tiga kota itu selalu merepresentasikan kebahagiaan, kedamaian. Dan perasaan itu pula yang muncul Kamis-Minggu lalu. Aku sering berangan-angan suatu ketika punya uang cukup banyak lalu membeli sawah di Majalengka. Di tengah sawah itu ada saungnya. Aku ingin kembali memiliki kesempatan untuk sesekali merasakan makan nasi merah dengan lauk tahu, tempe, ikan asin, sambal, dan lalapan yang dipetik langsung dari sawah, seperti yang pernah aku rasakan dulu waktu uwak panen padi.

Mungkin, antara lain, hal itu yang membuatku ingin selalu ”pulang” kalau kebetulan sedang pulang? Di Jakarta, harus aku akui, aku mendapatkan banyak hal dan kesempatan yang aku inginkan. Tidak. Aku tidak tengah berbicara tentang materi, jika menyinggung itu. Tapi, aku mensyukuri pengalaman yang aku dapatkan di sini. Aku mensyukuri bahwa di antara hari-hari yang aku lewati lebih banyak aku berkata, ”Wah hari ini indah sekali, ya. Aku bahagia. Aku merasa cukup.” Tapi tetap saja rasanya kok beda, ya kalau kebetulan aku pulang kampung? Tapi kuingat-ingat, perasaan berbeda ini baru ”ngeh” terasa sejak Lebaran 2007 lalu. Yang aku ingat, pemicunya waktu itu adalah obrolanku dengan Bapak dan salah satu sepupuku yang menjadi kepala sekolah di salah satu Madrasah Aliyah di sana. Kami, saat itu, ngobrol cukup panjang lebar tentang tokoh PUI Majalengka, KH. Abdul Halim, yang menjadi salah satu anggota BPUPKI. Kami juga bicara panjang lebar tentang rencana pembangunan bandara internasional di Kertajati, tentang dampak sosial-budaya yang mungkin muncul nantinya.

Ummm….apa lagi, ya? Oh, ya…sejak beberapa bulan terakhir, setiap aku mampir ke Cirebon, aku hampir selalu disuguhi cerita tentang aktivitas dua adikku di rumah penanya Farid Gaban (coba buka ini deh www.beritacerbon.com). Di antara aktivitas kerja dan kuliahnya, mereka berdua memang sedang giat-giatnya (belajar) jadi wartawan di situ. Jujur saja, aku senang mereka bisa punya aktivitas seperti itu. Senang sekaligus ngiri. Mereka berhasil tidak menjadi korban konstruksi realitas (yang lebih sering digembar-gemborkan media) tentang menjadi sukses di kota besar. (Ah, tapi tidak sesederhana itu juga, deng. Bukan tidak pernah kedua adikku ini tergiur ”lenggak-lenggok Jakarta”. Satu-dua kali mereka pernah juga mencoba menjajagi kemungkinan untuk ada di sini, tapi [terima kasih Allah] gagal. Dan rasanya, aku juga kok seperti terlalu mencari justivikasi atas keputusan menghirup udara Jakarta dengan selalu menyalahkan media atas keberadaanku di sini, saat ini. Baiknya mungkin aku mengatakan ada dua kepentingan yang bertemu di situ. Sejak kecil, hasrat ”menaklukan” Jakarta menjadi kepentinganku. Meski belum tepat benar untuk dianggap seperti itu, tapi toh fakta bahwa sekarang aku merasa bisa tidur nyenyak, tidak kelaparan, bisa beribadah dengan tenang, punya lingkungan pergaulan yang baik, sudah lebih dari cukup menjadi alasan untukku mensyukuri kemurahan-Nya. Buatku bisa bertahan hidup di Jakarta berarti sudah bisa menaklukan Jakarta. Nah, kepentinganku itu bernegosiasi dengan ”realitas” tentang Jakarta yang disuguhkan media padaku sejak kecil. Begitu saja mungkin ya, cara pandang yang lebih adil. )

Beberapa waktu terakhir, kalau pulang, aku selalu mencoba menularkan virus pada mereka untuk tetap tinggal di sana saja, tidak perlu bahkan, sekadar, mengadu untung di Bandung. Tidak ada salahnya membangun kampung halaman. Kota besar sudah terlalu sesak juga. Dan lagi, aku melihat mereka berdua begitu menikmati keberadaan mereka di Rumah Pena.

Hal-hal di atas sepertinya membuat magnit kampung halaman menjadi cukup kuat untuk mengalahkan tarikan Jakarta, bagiku, saat ini. Maka tidak heran, pada kepulanganku kali ini, aku mulai memutar otak, apa ya yang bisa menjadi alasan untuk aku bisa sering pulang? Tentu tidak sekadar karena kewajiban menengok orangtua. Tapi sepertinya harus ada alasan yang lebih berdaya guna. Jadi nanti bisa sering pulang, berkesempatan cium tangan Ibu dan Bapak, sekaligus punya arti juga buat orang lain di kampungku, dan satu lagi, ini tidak kalah penting, bisa lebih sering membaui kembali aroma kebahagiaan masa kecil dan remajaku dulu. Rasa yang semakin mewah diperoleh di metropolitan ini.

Uummm…keinginan ”pulang” ini serius atau sekadar perasaan nostalgik belaka, ya… :-?

Depok, 6 Mei 2008

April 17, 2008

Selamat Pagi Indonesia: Sapardi Djoko Damono

Filed under: Puisi — huriyyati @ 2:31 am

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

Next Page »

Blog at WordPress.com.