“Enggak jadi aku makan ayamnya. Dimakan Anggi.”
Begitu bunyi sms karib sekaligus teman satu kosku di Depok kemarin malam. Bisa dibilang pertemanan ini sudah terjalin sangat lama. Ini sudah dimulai sejak awal prosesi penerimaan mahasiswa baru di Unpad pada 1995 silam : saat pertama kali kami disambut salah satu kakak angkatan kami dengan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul, ”Selamat Pagi Indonesia” di aula gedung B fakultas sastra. Waktu itu kami duduk bersebelahan. Selanjutnya kami sering terlibat kepanitian bareng, baik di Rohis maupun di Senat Mahasiswa, atau penerimaan mahasiswa di tingkat universitas. Sekarang dia sedang mengambil S2 pengutamaan cultural studies di UI. Kami dan beberapa teman lain tengah bergiat di sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat saat ini.
Ikhwal sms itu, aku ceritakan saja latar belakangnya.
Sahabatku yang satu ini, sebut saja namanya Dini, sedang sakit. Ini kali kedua dia sakit selama kami satu kos. Bedanya, kali ini dia tidak dirawat seperti pada kejadian sakit kurang lebih setahun yang lalu. Sakitnya sih masih sama, thypus. Selama ini, aku memvonisnya bandel dan abai pada hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Karena hal itu pula, beberapa waktu lalu, kami berkonflik. Itu adalah konflik paling besar yang pernah muncul di antara kami. Untungnya kami mengungkapkan secara verbal keberatan kami satu sama lain. Meskipun tidak destruktif, tapi gesekan itu bahkan bisa membuatku tidak keluar dari kamar berhari-hari kecuali untuk beli makan, atau ke kampus ( itu pun sangat jarang. Hampir dua bulan terakhir ini aku disibukkan oleh laporan akhir penelitian dan proposal penelitian baru. Hampir tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain itu. Dan untuk pekerjaan ini, karena ruang dan waktu aku yang ”pegang” maka aku lebih suka mengerjakannya di rumah pada waktu kapan saja, sesuka aku mengaturnya. Dan deadline laporan ini sekaligus menjadi alasan jitu aku jarang keluar kamar). Btw, ternyata bikin laporan akhir penelitian itu seperti membuat tesis lagi. Whuaah! Capek buanget! Menguras seluruh energi!
Setelah laporan akhir selesai, kurang lebih akhir Maret lalu, aku mulai bisa fokus pada hal-hal lain selain penelitian termasuk relasi antarpersonal yang kuanggap masih menyisakan ketidakenakan. Pelan-pelan, kami saling melempar sinyal untuk ”berbaikan”. Dalam situasi yang lebih enak dan tenang, kami mengurai kembali alasan kenapa beberapa waktu lalu kami bisa saling melempar kemarahan begitu rupa. Baru sekitar tiga minggu ini hubungan kami kembali manis. Sampai kemudian, kurang lebih lima hari lalu, dia sakit. Malam-malam, kami, teman-teman satu kosnya, membawanya ke rumah sakit terdekat karena demamnya sudah sangat tinggi. Bibirnya bergeletar menahan dingin sementara suhu tubuhnya sangat panas, dan ada bintik-bintik di tubuhnya. Kami pikir ini DBD. Sekitar jam 10 Jumat malam itu, aku menggedor tetangga yang kebetulan punya warung makan dan menyediakan jus jambu merah. Aku membelinya karena kupikir itu akan setidaknya membuatnya lebih segar (meskipun pada akhirnya diagnosisnya bukan DBD, misalnya. Sok tahu juga, ya kami? Hehe…). Singkat kata, aku, (dengan memakai daster rumah dan baju hangat, haha…) bersama beberapa teman lain mengantarnya ke RS. Di sana, yang menandatangani berkas-berkas: aku. Aku merasa itu jadi seperti sebuah kontrak bahwa, sementara keluarganya tidak ada, akulah yang harus bertanggung jawab untuk kesembuhannya. Aku jadi seperti punya legitimasi untuk “mengatasinya”.
Dia didiagnosis kena gejala thypus. Untungnya masih belum perlu dirawat, tapi harus bedrest di rumah. Sekitar jam 12 malam, kami pulang.
Pada Sabtu dan Minggu, aku masih bisa melayaninya lebih intens. Tapi tiga hari terakhir ini, karena banyak hal administratif yang harus aku urus di kampus, maka aku ke kampus. Pagi hari sebelum berangkat, aku hanya menyediakan nasi lembek dan lauknya untuk sarapan. Untuk siang dan sore hari, aku meminta tolong salah satu teman kamar yang lain untuk melayani kebutuhannya.
Dua hari lalu, dia tampak lebih baik. Ada sahabat kami yang lain menjenguknya ketika aku datang sore-sore dari kampus hari itu. Mereka sedang ketawa-ketawa ketika aku ke kamarnya. Aku tanya, tadi siang sempet tidur atau gak. Dia jawab, sempet meski cuma 15 menit, selebihnya ngobrol dan ketawa-ketiwi. Wah, kalau di Rumah Sakit, udah dilarang, nih. Begitu pikirku. Malam itu, dia pengen ayam bakar. Aku membeli ayam bakar ortega yang enak dan empuk itu, satu untuk dia dan satu untukku. Ketika dia mencicipi kecapnya, dia bilang, agak pedas nih, tolong dicuci dan dibuang bumbunya. Aku bilang, jangan dimakan, karena meskipun ayam itu tidak terlalu pedas, tapi pencernaanmu mungkin masih belum bisa menerima. Dia ngotot dan tampak kesal karena aku dianggapnya terlalu mendramatisasi keadaan. Aku kehilangan selera makan bareng dia di kamarnya. Setelah kucucikan ayam itu, aku ambil makananku, kubilang, aku makan di kamarku saja. Lalu aku makan. Nonton TV sebentar. Tidur.
Jam dua malam, aku bangun. Kunyalakan hape yang sejak pulang kampus sore itu mati. Lalu muncullah sms-itu “Enggak jadi aku makan ayamnya. Dimakan Anggi.” Dia kirim sampe ke dua nomorku!
Aku bingung. Aku bertanya-tanya kenapa semalam aku terasa begitu posesif dan berusaha mengendalikannya. Apakah dia mengikuti saranku karena dia merasa aku peduli padanya, atau karena dia takut akan kehilangan salah satu perawatnya sementara tidak ada satu pun keluarganya di sini, atau justru dia merasa terkuasai/terintimidasi olehku? Mungkin benar aku menginginkan kesembuhannya. Tapi bisa jadi sikap itu muncul lebih disebabkan karena aku ingin segera terbebas dari tugas melayaninya tiap pagi membuatkan nasi lembek, mencarikan lauk yang sehat untuk orang sakit thypus seperti dia, memastikan siangnya ada yang jagain sebelum aku datang, ingin lebih tenang mengerjakan banyak hal di kampus (browsing dan mengupdate blog/facebook terutama. Udah lama banget aku gak bisa begitu karena laporan akhir itu) dan tidak merasa perlu cepat-cepat pulang. Bisa jadi dalam banyak hal, keputusan yang aku buat adalah karena cintaku yang teramat besar pada diri sendiri melebihi kepedulianku pada orang lain.
Jangan-jangan, ketika orangtua (bapak dalam hal ini) atau sahabat sakit, dan aku menginginkan kesembuhan mereka, alasannya lebih karena aku pengen segera terbebas dari beban merawatnya? Jangan-jangan ketika sebuah relasi dalam bentuk apa pun: persahabatan, percintaan, atau organisasi tidak berjalan mulus dan berakhir di tengah jalan (atau aku akhiri), alasan yang melatar belakanginya lebih karena porsiku melayani diri sendiri jauh lebih besar dari melayani dan mengasihi orang lain? Lebih karena aku tidak cukup bisa bersabar pada perbedaan yang membuatku merasa mentok, bosan? (terlebih aku memang sangat pembosan orangnya). Lebih disebabkan karena merasa (atau berpikir) sepertinya menghindari dan mencari yang lebih bisa mengimbangi, bahkan melampaui, cintaku pada diri sendiri akan membuat hidupku lebih baik?
Wah lari ke mana-mana. Jangan-jangan ini sebenarnya tidak lebih dari persoalan aku kesal saja. Aku sebenarnya marah karena merasa sudah begitu peduli tapi ga dianggap, dan malah dingeyeli (aku kesel saranku telat direspons)? Sesuatu yang biasa dalam hidup. Seperti yang dibilang seseorang nun di sana, ”namanya juga hidup, kadang aku baik, santun, dermawan, kadang marah-marah”. Ya. Sebiasa itu saja. Hehe…:D
Depok, 17 April 2008