“ … ini pertaruhannya, mereka ini di sini…gitu lho…Kalau kau gagal di sini, yang lainnya jangan harap deh…Yang sebegini kondusif aja sebegini. Ini loh pertaruhan. Kalau di sini tidak diurusin dengan baik, ya kau bakal susah. Hong Kong yang….Udah kebayang belum ada buruh migran yang di sidang PBB? Sekjen-nya IMWU tuh pidato, Eni Yuniarti. Sekarang dia ada di Indonesia. Dia ngomong New Condition of Stay; kebijakan imigrasi Hong Kong dan aturan dua minggu itu adalah kebijakan yang sangat mendiskriminasi buruh migran dan secara sistematis pula inilah yang menyebabkan underpayment dan segala macem. Karena dalam the New Condition of Stay ini kan mereka, ini dari kacamata diskriminasi, yah…temen-temen buruh migran itu tidak diijinkan untuk berganti jenis pekerjaan. Gak boleh ngebawa keluarganya di sini, gak berhak mengajukan permanent residence walaupun sudah bekerja selama tujuh tahun. Dan kalau mereka lagi nuntut masalahnya di Labor Departemenn mereka gak diijinkan untuk gak kerja. Dan sejak di-terminate kau cuma punya waktu 14 hari. Ini kan kesulitan semua. Dan rekomendasi CIDEW Commitee Convention on Elemination from Discrimination for Women ;komite penghapusan segala bentuk diksriminasi terhadap perempuan, nah termasuk salah satunya adalah NCS. PBB tuh sudah merekomendasi keras pemerintahan Hong Kong untuk mencabut NCS dan menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih fleksibel. Sampe sekarang itu kagak dicabut.” (Aktivis buruh migran di Hong Kong, Laki-laki, Juli 2008)
Transkrip verbatim di atas adalah secuil kutipan dari obrolan panjang saya dengan seorang aktivis buruh migran di Hong Kong, pada sebuah masa saat saya melakukan penelitian tentang buruh migran (dan kaitannya dengan internet sebenarnya) pada 2008 lalu. Ini Hong Kong gitu lho. Sebuah tempat yang saya duga akan memberi banyak cerita indah tentang kondisi buruh migrannya.
Baik. Saya mencoba untuk tidak menutup mata terhadap hal-hal positif atas undang-undang perburuhan yang lebih kondusif bagi para buruh migran kita di sana. Geliat aktivitas kepenulisan baik melalui media cetak atau dunia maya, bahkan beberapa sampai dibukukan, atau kesadaran beberapa Buruh Migran Indonesia (BMI) untuk memperjuangkan hak mereka dan mengekspresikannya dalam berbagai bentuk; kesenian, tulisan, dan tentu saja demonstrasi antara lain adalah buah dari kondisi perburuhan yang kondusif di Hong Kong. Selama satu bulan saya tinggal di sana, saya disuguhi, kalau tidak salah, empat kali aksi demonstrasi dan kelantangan para buruh migran menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui itu. Selama itu pula, saya sangat beruntung dipertemukan dengan kawan-kawan buruh migran yang luar biasa yang memiliki aktivitas kepenulisan (terutama di dunia maya) yang buah pikirannya sering kali membuat saya terinspirasi (sampai hari ini, saya masih menyimpan transkrip verbatim dan rekaman wawancara dengan mereka).
Namun, saya juga tidak buta atas segala bentuk perlakuan tidak adil pada kawan-kawan di sana. Saya tinggal satu bulan di sebuah apartemen yang disewa oleh sekelompok pengajian buruh migran. Tempat itu lebih terasa berpenghuni hanya pada hari-hari tertentu, Sabtu, dan, terlebih-lebih, Minggu. Biasanya itu menjadi hari libur bagi mereka. Sekali lagi saya beruntung, karena selama satu bulan di sana, saya tidak dibiarkan benar-benar sendiri karena ada saja yang menemani. Kadang ada buruh migran yang sedang menunggu majikan baru, kadang ada yang tengah libur karena bosnya sedang berlibur ke Eropa, Amerika, atau mana sajalah selain Hong Kong.
Pada Sabtu-Minggu, suasana di apartemen jauh lebih ramai karena banyak aktivitas yang dilakukan di sana; pengajian, kursus komputer, kursus bahasa Inggris, dan tentu saja kegiatan membuat penganan untuk dijajakan di Vicoria Park, tempat kawan-kawan buruh migran yang lain berkumpul. Narasumber saya otomatis jadi banyak. Cerita tentang berbagai kisah sukses atau atau sedih menjadi makanan sehari-hari. Kawan-kawan di sana tidak segan bercerita banyak hal.
Saya menjadi jauh lebih sentimentil di sana. Sesukes apapun cerita yang mereka suguhkan, terasa bagi saya kepedihan tersembunyi di sana. Coba bayangkan. Kawan-kawan di sana harus rela pergi meninggalkan orang-orang yang dikasihinya untuk sekadar bisa membantu suami menyekolahkan anak-anak mereka atau membayar utang kedua orangtua mereka; singkatnya untuk mencari nafkah yang bukan untuk menyenangkan diri sendiri tapi menghidupi mereka yang ditinggalkan di tanah air! Sudah begitu tidak sedikit pula yang digaji di bawah standar, mendapat perlakuan tidak baik dari majikan, mendapat potongan yang gila-gilaan dari agen PJTKI, mengalami pelecehan seksual, belum lagi ketidakberpihakan pemerintah terhadap kondisi-kondisi itu, yang tentu saja bukan lagi rahasia.
Mau tahu apa pendapat salah satu aktivis buruh migran kita di Hong Kong tentang ketidakberpihakan pemerintah?
”Bukan tidak peka. Peka itu kan masalah yang kamu kalau tidak mampu…. Kan mereka ini sudah konkret tidak mau merespons gitu loh isu-isu yang memang menjadi kebutuhan, kan gitu. Jadi kalau kristalisasi itu lahir, ya akhirnya lahir karena memang saking ini kita, ya karena dituntut, dijak ngobrol juga gak memberi solusi. Dijak demo juga gak mau memberi solusi, lalu apa yang bisa dilakukan untuk membuat mereka berubah, kan gitu. Lek dari aspek kita bayangin, apa yang kita tuntut, ok mereka mau merespons kan bukan hal yang sulit? Tapi kan masalah keberpihakan, itu yang tidak bisa kita pecahkan karena itu kan konkret. Keberpihakan pemerintah itu pada swasta. Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri kentara sekali. Jadi kalau itu menjadi aspek mengerucut ke kristalisasi bahkan ke kontradiksi yang paling keras sekalipun, sampe propaganda sampe media dsb, itu lahir karena kenyataan gitu lho. Karena kontradiksi itu tidak bisa dihindari. Bedanya adalah, kayak di negara lain, kan, ketika pergerakannya tidak menguat, dan tidak dibimbing oleh organisasi progresif, akan menjadi loose. Ketidakperdulian pemerintah menjadi samar-samar, gak kentara. Tetapi seperti di HKG ketika organisasinya kuat, analisanya tajam, yo kan, mampu membedah secara dalam, mereka gak bisa lari. Dan ketika gak bisa lari, mereka tidak mau merespons juga. Ya mereka cuma bisa berdiri di tempat sama ignore, ya. Kenapa itu perseteruannya jadi meruncing. Itu kurasa, aku perjelas, bukan lahir dari kita. Itu lahir karena mereka tidak mau menyelesaikan persoalan.” (BMI, Perempuan, Aktivis Gerakan Buruh, Juli 2008)
Sungguh tidak saya duga sebelumnya bahwa bahkan cerita-cerita seperti ini saya dapati di Hong Kong, yang katanya undang-undang perburuhannya baik. Hampir setiap hari pula. Lantas bagaimana dengan negara penerima lain yang tidak memiliki undang-undang perburuhan yang kondusif di tengah ketidakberpihakan pemerintah pada nasib kawan-kawan buruh migran di seantero dunia?
Mendekati Mei, selalu membawa ingatan saya pada kebersamaan dengan kawan-kawan buruh migran dua tahun lalu: pada satu bulan sarat makna di sana, bahkan sejak hari pertama. Setiap kali membaca transkrip verbatim dan mendengar rekaman obrolan dengan mereka kembali, saya seperti diingatkan betapa saya masih berutang banyak pada mereka.
Saya disadarkan bahwa sebagian hidup saya, misalnya, melalui fasilitas di sekolah negeri sejak SD, dibiayai dari hasil dari cucuran keringat dan air mata kawan-kawan buruh migran di mana pun berada. Ada uang para pahlawan devisa itu di APBN kita. Banyak lho. Urutan tertinggi kedua dari penghasilan devisa negara setelah migas!
Bagaimana saya mencicilnya, ya? Saya harus mengakui bahwa hasil penelitian kami yang berjudul Buruh Migran di Dunia Global: Sebuah Lompatan Ruang dan Digital, baru menjadi sebatas laporan yang teronggok entah di ujung meja bagian mana. Upaya menjadikannya buku baru sebatas mimpi karena sampai saat ini baru berbentuk outline. Saya pernah bertemu dengan salah seorang di penerbitan untuk menjajagi kemungkinan menjadikannya buku. Itu pun berhenti pada komentar yang kurang lebih berbunyi begini “Apa yang menarik dari isu semacam itu? Secara teoretis ada sesuatu yang luar biasa tidak dari kajian semacam itu? Ada sumbangan teoretik bagi perkembangan ilmu pengetahuan tidak? ”. Saya pernah mencoba menawarkan program pada sebuah LSM di kampung halaman saya, yang banyak juga warganya yang menjadi buruh migran bahkan di tetangga kampung banyak perempuannya yang menjadi korban trafficking. Itu pun berhenti pada beberapa kali pertemuan dan audiensi dengan salah satu anggota DPRI RI yang memiliki konstituen di situ. Pernah memaparkan hasil penelitian pada Kementrian Kominfo pada sebuah pertemuan tentang pemberdayaan perempuan melalui telematika juga berhenti pada decak kagum akan kemampuan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) para buruh migran di Hong Kong dan janji akan segera merealisasikan hasil temuan menjadi program-program yang lebih memberdayakan pada saat mereka pulang ke tanah air. Pernah mengajukan program acara di radio di Jakarta tempat teman-teman yayasan saya beraktivitas, itu pun berhenti pada sebatas obrolan dan pembuatan proposal. Masih belum menemukan jalan.
Saya masih berniat mencicil utang itu. Seperti ada semacam ritual yang wajib saya laksanakan sejak kebersamaan sarat makna dua tahun lalu menjelang Hari Buruh 1 Mei. Tepat pada 1 Mei tahun lalu, saya menyerahkan laporan penelitian pada DRPM UI sebagai pemberi dana. Menjelang May Day kali ini, saya tahu kawan-kawan saya di Hong Kong akan kembali bergerak; memperjuangkan hak-hak mereka. Jadi, pada May Day tahun ini, ijinkan saya untuk menyambut seruan memberikan dukungan pada seluruh buruh sedunia, terutama kawan-kawan buruh di Hong Kong, dengan memasangkan brosur seruan aksi berikut untuk dipasang di profile picture facebook saya. Anggap saja itu adalah bagian dari upaya saya mencicil utang itu.
Tanpa bermaksud menafikan perjuangan buruh yang lain di tempat lain, saya, secara pribadi, memang merasa lebih memiliki keterikatan dengan teman-teman (perempuan) di Hong Kong.
“ … ini pertaruhannya, mereka ini di sini…gitu lho…Kalau kau gagal di sini, yang lainnya jangan harap deh…”
Uhm…masing terngiang saja kalimat itu di telingaku, Kamerad!
Jakarta, 30 April 2010
Catatan: Ini adalah tulisan saya di facebook. Ada sedikit perubahan di akhir paragraf menyesuaikan dengan waktu dan tempat yang baru